Mobil Nasional i2C: Spesifikasi, Harga, dan Target Produksi 2027-2028

Mobil i2c PT. TMI, mobil nasional terbaru yang digarap oleh PT Teknologi Mobil Indonesia

Proyek mobil nasional i2C kembali bergulir. PT Teknologi Mobil Indonesia (TMI) selaku pengembang akhirnya membuka tabir spesifikasi kendaraan listrik yang digadang-gadang sebagai penerus mimpi memiliki mobil buatan sendiri. Di tengah gempuran merek asing yang membanjiri pasar EV Tanah Air, i2C hadir membawa harapan bahwa Indonesia tak selamanya hanya jadi penonton.

Mobil ini pertama kali muncul dalam bentuk clay model skala 1:1 di GIIAS 2025. Saat itu, Presiden Prabowo Subianto yang langsung mengarahkan proyek ini menargetkan mobil nasional bisa terwujud dalam tiga tahun. Targetnya, produksi massal bisa dimulai akhir 2027 atau awal 2028. Bukan target yang mudah, tapi setidaknya ada pijakan waktu yang jelas.

Spesifikasi yang Ditawarkan

Dari bocoran yang beredar, i2C akan hadir sebagai SUV atau MPV keluarga berkapasitas 7 penumpang. Dimensinya cukup lega dengan panjang 4.910 mm, lebar 1.848 mm, dan tinggi 1.690 mm. Untuk ukuran mobil keluarga, ini masuk dalam kategori yang nyaman untuk perjalanan jarak jauh.

Kategori Spesifikasi
Dimensi (P x L x T)4.910 x 1.848 x 1.690 mm
Kapasitas Penumpang7 orang (konfigurasi 3 baris)
Jenis KendaraanSUV / MPV keluarga
Motor ListrikPermanent magnet (penggerak roda belakang)
Tenaga204 PS (150 kW)
Torsi310 Nm
Akselerasi 0-100 km/jam9,1 detik
Kecepatan Maksimal200 km/jam
Jenis BateraiNMC (Nickel Manganese Cobalt) 83,4 kWh
Jarak Tempuh (CLTC)600 - 617 km
DC Fast Charging150 kW
AC Charging11 kW (Type 2)
Harga EstimasiRp400 - 500 juta
Target Produksi MassalAkhir 2027 - Awal 2028

Sektor dapur pacu mengandalkan motor listrik permanen magnet dengan tenaga 204 PS dan torsi 310 Nm. Akselerasi 0-100 km/jam bisa ditempuh dalam 9,1 detik dengan kecepatan puncak 200 km/jam. Angka yang cukup kompetitif untuk ukuran mobil keluarga.

Baterai yang digunakan berjenis NMC berkapasitas 83,4 kWh. Dengan baterai sebesar itu, jarak tempuhnya diklaim mencapai 600 hingga 617 kilometer dalam satu kali pengisian penuh. Untuk pengisian daya, tersedia fast charging 150 kW dan AC charging 11 kW tipe 2. Soal harga, PT TMI memasang estimasi Rp400-500 jutaan.

Desain: Sentuhan Anak Bangsa dengan Konsultan Italia

Yang menarik dari proses pengembangan i2C adalah keterlibatan desainer lokal. PT TMI menggandeng Italdesign, perusahaan desain asal Italia yang terkenal dengan karya supercar-nya. Tapi perlu dicatat, desain i2C 100 persen dikerjakan oleh lima desainer Indonesia. Italdesign hanya berperan sebagai konsultan yang memberi masukan.

Desainnya mengusung tema "Nusantara Cultural" dengan beberapa elemen ikonik. Burung Garuda menjadi simbol kekuatan dan kedaulatan. Motif batik halus menghiasi detail eksterior mewakili identitas seni daerah. Ada juga ciri khas bulan Agustus yang disematkan sebagai identitas visual kebangsaan. Siluetnya tegas dengan kesan petualang tapi tetap elegan. Interior dirancang dengan garis-garis bersih yang memberi kesan teratur, ditambah sentuhan berkarakter untuk pengalaman premium.

Teknisi dan Akademisi Terlibat

PT TMI bukanlah perusahaan baru di dunia teknologi. Sebelumnya, perusahaan ini fokus mengembangkan sistem pertahanan yang menggabungkan berbagai sensor dalam satu platform terintegrasi. Pengalaman mengelola sistem kompleks ini diyakini menjadi modal berharga untuk mengembangkan mobil nasional yang tidak sekadar rebadge dari produk asing.

Dalam proses pengembangannya, PT TMI juga melibatkan sejumlah kampus ternama. ITB berkontribusi di desain dan pengembangan kendaraan. ITS fokus pada pengembangan sel baterai. Sementara UI membantu kolaborasi desain dengan Italdesign. Kolaborasi antara industri dan akademisi ini penting agar proyek tidak sekadar membangun pabrik, tapi juga menciptakan ekosistem pengetahuan yang berkelanjutan.

Target TKDN i2C juga dipatok setinggi mungkin dengan mempertimbangkan ketersediaan perkakas dan pasokan lokal. Komponen seperti kaca spion dan lampu sudah disesuaikan untuk diproduksi di dalam negeri.

Soal Dana dan Produksi

Proyek sebesar ini jelas butuh dana tidak sedikit. Untuk tahap dari clay model ke showcar, dibutuhkan sekitar Rp48-64 miliar. Lanjut ke tahap prototipe dan pengujian, kebutuhannya melonjak ke angka Rp800 miliar. Dan untuk bisa produksi massal, PT TMI harus mengucurkan sekitar Rp16 triliun. Angka yang besar, tapi sebanding dengan investasi pabrikan asing yang sudah masuk ke Indonesia.

Yang membedakan, investasi untuk i2C adalah investasi untuk kemandirian bangsa. Bukan sekadar membangun pabrik perakitan yang sewaktu-waktu bisa dipindahkan ke negara lain.

Belajar dari Selo dan Esemka

Sejarah mencatat, Indonesia sebenarnya sudah punya prototipe mobil listrik sejak 2013. Namanya Selo. Mobil supercar listrik karya insinyur Indonesia Ricky Elson ini sempat dipamerkan di KTT APEC Bali di depan para pemimpin dunia. Teknologinya saat itu sudah canggih: baterai 360 volt, jarak tempuh 250 kilometer, kecepatan 220 km/jam. Dunia sempat melirik Indonesia sebagai pemain serius di era elektrifikasi.

Tapi Selo mati suri. Bukan karena gagal secara teknologi, tapi karena regulasi tak kunjung keluar. Peraturan tentang mobil listrik baru hadir tahun 2019, terlambat enam tahun dari momentum yang seharusnya. Ditambah lagi, setelah Dahlan Iskan lengser sebagai Menteri BUMN, proyek kehilangan patron. Ricky Elson yang sempat pulang ke Indonesia demi memajukan negeri, akhirnya balik lagi ke Jepang. Ironisnya, teknologinya justru dipatenkan oleh perusahaan Jepang tempatnya bekerja.

Lalu ada Esemka. Lahir dari semangat siswa SMK yang ingin membuktikan bahwa anak bangsa bisa. Mobil ini bahkan sempat dipakai Jokowi saat masih menjabat Wali Kota Solo. Tapi ketika diuji secara resmi, Esemka gagal di hal paling dasar: uji emisi. Dua kali uji, dua kali gagal. Bukan karena teknologinya terlalu rumit, tapi karena proses engineering yang tidak matang. Mobil yang seharusnya jadi kebanggaan, malah jadi simbol kegagalan sistem pendampingan industri.

Dari dua kisah ini, ada pelajaran berharga. Pertama, proyek nasional butuh konsistensi regulasi, bukan sekadar semangat sesaat. Kedua, tanpa proses engineering yang matang dan dukungan ekosistem industri, mimpi akan tetap mimpi. Ketiga, talenta terbaik bangsa harus diberi ruang, bukan justru dihadang birokrasi yang tumpang tindih.

Kabar baiknya, saat ini ekosistem EV Indonesia sudah jauh lebih matang. Pemerintah punya Perpres 55/2019 soal percepatan EV. BUMN lewat MIND ID dan IBC sedang membangun ekosistem baterai terintegrasi. Dan yang tak kalah penting, ada Marlip Angklung, mobil listrik angkot asli Bandung yang sudah lulus uji emisi dan siap produksi massal. Marlip membuktikan bahwa anak bangsa mampu.

Momentum yang Tak Boleh Disia-siakan

Dengan spesifikasi yang ditawarkan, i2C sebenarnya punya kans bersaing. Jarak tempuh 600 km, tenaga 204 PS, kapasitas 7 penumpang, dan harga Rp400-500 jutaan. Ini setara dengan mobil listrik kelas menengah yang sudah beredar. Bedanya, i2C adalah milik kita sendiri.

Tapi sekali lagi, spesifikasi di atas kertas belum menjamin apa-apa. Yang terpenting adalah komitmen untuk konsisten. Jangan sampai proyek ini hanya jadi gimmick politik yang ramai di awal lalu menghilang setelah pergantian kabinet. Jangan sampai insinyur-insinyur mudanya hanya jadi penonton di negeri sendiri.

Sudah terlalu banyak mimpi yang tertunda. Sudah terlalu banyak talenta yang menguap ke luar negeri. Sudah terlalu banyak kesempatan yang hilang karena sistem yang tidak konsisten. i2C adalah kesempatan terbaru. Semoga kali ini berbeda.

Baca juga:
Marlip Angklung: Mobil Listrik Angkot Asli Bandung, Lulus Uji Emisi, Siap Jadi Masa Depan Transportasi Indonesia!
Omoway Omo X: Motor Listrik Self-Balancing yang Bikin Penasaran
Skema Cicilan Omoway Omo X 2026, Siapkan DP Mulai Rp5 Jutaan
Pajak Tahunan Omoway Omo X Cuma Rp100 Ribu, Lebih Murah dari Motor Konvensional
Hati-Hati Motor Anti Rubuh: Omoway Omo X Siap Menggebrak
Omoway Omo X Bakal Jadi Lahan Basah bagi Kompetitor

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Database Artikel

    paling banyak dibaca

      Technical Research Division

      SPEEDOSCIENCE

      Comprehensive database for automotive engineering, aerospace physics, and high-velocity performance logs.

      LAND RECORDS
      AERO TECH
      MARINE DATA
      EXPLORE DATABASE