1 Tahun Bus Listrik Yogya-Bekasi Jalan, Tantangan SPKLU untuk Bus Besar Masih Berat

Bus listrik PO Sumber Alam rute Yogyakarta-Bekasi

📸 Bus listrik PO Sumber Alam yang sempat beroperasi di rute Yogyakarta-Bekasi

🕒 Dipublikasikan: 26 Mei 2026 | ✍️ Editor: Tim AP Motor 📍 YOGYAKARTA
🚌 KENDARAAN NIAGA
REVIEW BUS LISTRIK – Setahun lalu, bus listrik antar kota sempat jadi perhatian banyak orang. Bayangkan saja, perjalanan jauh dari Yogyakarta ke Bekasi ditempuh menggunakan bus tanpa suara mesin diesel dan tanpa asap knalpot. Bagi sebagian orang, itu terasa seperti gambaran masa depan transportasi Indonesia.

Dan memang, uji coba itu benar-benar dilakukan. PO Sumber Alam bersama Kalista sempat menjalankan bus listrik untuk rute AKAP Yogyakarta–Bekasi. Bus tersebut menjadi salah satu percobaan serius penggunaan kendaraan listrik untuk perjalanan antar kota antar provinsi. Namun setelah setahun berlalu, apa saja yang menjadi tantangan nyatanya?

🚌 Spesifikasi Bus: Higer Coach 12 Meter

Bus listrik yang digunakan dalam uji coba ini adalah Higer Coach 12 meter. Dengan kapasitas 40 kursi penumpang, bus ini dirancang untuk perjalanan jarak jauh. Fasilitas yang tersedia cukup standar: AC, kursi reclining, namun tidak dilengkapi toilet – salah satu catatan penting untuk perjalanan 12 jam.

Warna bus didominasi putih dengan aksen hitam, biru, dan hijau – tampil modern dan bersih. Harga tiket saat uji coba dipatok Rp170.000, cukup kompetitif dibanding bus diesel konvensional untuk rute yang sama.

⚡ Performa & Efisiensi: Hemat 54% Biaya Operasional

Dari sisi teknis, bus listrik ini terbukti sangat efisien. Konsumsi energi rata-rata mencapai 0,63 kWh per kilometer. Angka ini fantastis untuk bus sebesar 12 meter dengan muatan penuh. Dibandingkan bus diesel konvensional, penghematan biaya operasional mencapai 54 persen. Selain itu, emisi karbon berkurang 28 persen.

Salah satu fitur yang berkontribusi pada efisiensi adalah regenerative braking. Sistem ini bekerja optimal saat bus melintasi turunan di daerah Ajibarang, Banyumas – mengisi ulang baterai sambil mengurangi keausan kampas rem. Teknologi yang sudah umum di mobil listrik ini ternyata sangat efektif juga untuk bus besar.

🔴 Tantangan Utama: SPKLU Tidak Kompatibel untuk Bus Besar

Namun, perjalanan 540 kilometer dari Yogyakarta ke Bekasi tidak bisa ditempuh sekali cas. Bus ini harus berhenti dua kali untuk mengisi daya di tengah perjalanan. Lokasi cas yang digunakan adalah di Indramayu dan Ajibarang, dengan waktu pengisian sekitar 45 menit untuk setiap kali cas (dari 20 persen ke 100 persen).

Masalah utamanya bukan pada teknologi bus, tapi pada infrastruktur SPKLU yang tersedia. Selama ini, Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) dirancang untuk kendaraan penumpang (mobil dan motor), bukan untuk heavy duty vehicle seperti bus atau truk trailer. Akibatnya, bus listrik tidak bisa menggunakan SPKLU yang sudah ada. Untuk uji coba ini, Kalista dan PO Sumber Alam harus menyiapkan charger khusus.

Yoga Adiwinarto, Direktur Pengembangan Bisnis Kalista Group, menjelaskan dilema ini dengan gamblang: "Kalau baterainya kebanyakan, bisa aja (sekali jalan tanpa cas), cuma nggak bisa bawa orang. Karena udah keberatan si busnya." Artinya, dengan teknologi baterai saat ini, ada trade-off antara kapasitas penumpang dan jarak tempuh.

💡 Solusi yang Diharapkan: Bukan Subsidi, Tapi Infrastruktur

Yang menarik dari pernyataan Kalista adalah apa yang mereka minta dari pemerintah. Bukan subsidi atau insentif finansial. Yang mereka butuhkan adalah infrastruktur charging station yang kompatibel dengan kendaraan komersial besar.

"Bukan support subsidi, kita nggak ngomong support berupa subsidi, tapi kita fokusnya ke infrastruktur charging station," tegas Yoga. Kalista bersama PLN dan pengelola jalan tol saat ini sedang bekerja sama untuk menyediakan SPKLU khusus kendaraan besar di rest area jalur pantura dan jalur selatan Jawa.

Jika infrastruktur ini terwujud, bus listrik AKAP bisa beroperasi secara komersial tanpa harus menyiapkan charger sendiri. Ini akan membuka pintu bagi operator bus lain untuk ikut beralih ke kendaraan listrik.

📊 Review Singkat: Kelebihan vs Kekurangan

✅ Kelebihan

  • Hemat biaya operasional 54% – signifikan untuk bisnis PO
  • Emisi 28% lebih rendah – ramah lingkungan
  • Perjalanan sunyi – tanpa suara mesin diesel
  • Regenerative braking – efisien di turunan
  • Harga tiket kompetitif – Rp170.000

❌ Kekurangan

  • Harus cas 2x di perjalanan – tambah waktu tempuh
  • Tidak ada toilet – kurang nyaman untuk AKAP
  • SPKLU untuk bus besar belum tersedia – harus bawa charger sendiri
  • Trade-off muatan vs jarak – baterai besar = kurang penumpang
  • Investasi awal lebih mahal – bus listrik belum termurah

🔄 Proyek Percontohan yang Berharga

Meskipun uji coba ini sudah selesai dan bus listrik tidak lagi beroperasi reguler di rute Yogyakarta-Bekasi, proyek ini memberikan pelajaran berharga bagi industri transportasi Indonesia. Kalista menyebut tujuannya adalah menguji kekuatan sistem dari perencanaan hingga operasional – dan dari situ mereka mendapatkan data riil tentang apa yang diperlukan untuk elektrifikasi bus AKAP.

Yoga Adiwinarto optimis bahwa elektrifikasi bus antar kota bukanlah mimpi. "Dengan dukungan infrastruktur yang tepat, bus listrik untuk rute jarak jauh sangat feasible," katanya. Kuncinya ada di kolaborasi antara operator bus, penyedia teknologi, dan pemerintah – terutama PLN dan Kementerian Perhubungan.

🚌 Bus Listrik AKAP: Bisa Secara Teknis, Terhambat Infrastruktur

Proyek bus listrik PO Sumber Alam rute Yogyakarta-Bekasi adalah bukti bahwa secara teknis, elektrifikasi bus antar kota itu mungkin. Efisiensi energi 0,63 kWh/km, penghematan biaya operasional 54%, dan emisi 28% lebih rendah adalah angka-angka yang sulit diabaikan.

Tapi tantangan infrastruktur masih menjadi pekerjaan rumah besar. SPKLU yang tersedia saat ini tidak kompatibel dengan bus besar. Tanpa charger khusus heavy duty vehicle, operator bus harus menyiapkan sendiri – yang tidak praktis untuk skala komersial.

Yang menarik, dukungan yang diminta operator bukanlah subsidi, tapi infrastruktur charging station di rest area sepanjang jalur pantura dan selatan Jawa. Jika ini terwujud, bus listrik AKAP bisa beroperasi seperti bus diesel: jalan, berhenti sebentar untuk isi daya (45 menit), lalu lanjut lagi. Dengan waktu tempuh yang sedikit lebih panjang tapi biaya operasional jauh lebih murah, prospeknya sangat menarik.

Setahun setelah uji coba, kabar baiknya adalah Kalista bersama PLN sedang mengupayakan SPKLU khusus kendaraan komersial. Semoga dalam waktu dekat, bus listrik AKAP bisa benar-benar menjadi pemandangan umum di jalanan Indonesia. Pantau terus AP Motor untuk perkembangan terbaru!

#BusListrik #POSumberAlam #Kalista #SPKLU #AKAP #KendaraanListrik

© 2026 AP Motor – Portal Otomotif Terpercaya | Sumber: Kalista Group, PO Sumber Alam, PLN

Postingan Terkait

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Database Artikel

    paling banyak dibaca

      Technical Research Division

      SPEEDOSCIENCE

      Comprehensive database for automotive engineering, aerospace physics, and high-velocity performance logs.

      LAND RECORDS
      AERO TECH
      MARINE DATA
      EXPLORE DATABASE